Jangan Jadi Programmer Jika Ingin Hidup Tenang

Jangan Jadi Programmer

Jangan Jadi Programmer? Ada banyak pengalaman pribadi orang-orang yang berkarir sebagai programmer dan menjabarkan kehidupannya pada blog dan forum diskusi yang menjadikan perdebatan. Masalah baik atau tidaknya menjadi seorang programmer bukan diukur dari seberapa handal kamu menguasai bahasa program tapi dari diri kamu sendiri. Bukan tidak mungkin, seorang programmer adalah orang yang sulit berbaur dengan publik atau sekitar, kurang pergaulan di dunia nyata, kurang tidur, bekerja tanpa henti dimanapun dan kapanpun.

Memang banyak orang awam yang mengira programmer adalah pekerjaan atau profesi yang baik dan bergengsi, bisa hidup enak dan berhambur uang. Beberapa orang hebat memang demikian, sebut saja Bill Gates (pendiri Microsoft), Mark Zuckerberg (pendiri Facebook), Larry Page (pendiri Google), dll. Pendiri adalah orang yang pertama kali membuat dan menggagas atau menciptakan program lengkap beserta strategi bisnis dan manfaat untuk publik. Jadi sebelum mereka sukses menjadi bos besar dan orang terkaya seperti sekarang ini, mereka semua dulunya adalah seorang programmer yang bisa menciptakan program yang saat ini kita rasakan manfaatnya. Mereka bukanlah panutan yang harus kamu ikuti jejaknya karena sehebat apapun kamu menguasai bahasa program, tapi tidak mungkin untuk menyaingi strategi dan pola pikir mereka.

Programmer dituntut harus serba bisa melebihi kehebatan superhero dalam kisah fiksi. Contoh sederhananya, jika seorang web programmer era 2000an bisa membuat website yang powerfull hanya dengan php dan database, kini itu semua hanya "cerita masa lalu" yang tidak akan terwujud kembali. Seorang programmer era 2017 dan seterusnya dituntut harus menguasai beragam bahasa program seperti Framework, API, XML, dll yang kesemuanya perlu diperlajari satu-persatu dengan tingkat kesulitan yang berbeda-beda. (Mumet deh pasti...)

Belum lagi jika kamu sudah bekerja dan menemukan bos yang super bawel dan banyak maunya, kalau banyak maunya tapi di gaji besar itu tidak masalah tapi, sudah banyak maunya tapi gaji pas-pasan itu luar biasa. Seorang programmer memang tidak memiliki patokan gaji yang pasti, tapi bos di perusahaan yang tidak tau menau tentang dunia programming tentu menganggap membuat program adalah hal yang mudah dan biasa saja. Dari contoh ini kamu bisa menelaah bawasannya seorang programmer harus memiliki kesabaran ekstra dan kontrol emosi yang lebih daripada sinetron di tv.

Ada beberapa hal yang membuktikan bahwa menjadi seorang programmer adalah profesi yang kurang tepat bagi orang yang ingin hidup tenang dan normal. Berikut alasannya :


1. Siap Kurang Tidur

Siap Kurang Tidur
Seorang programmer selalu memikirkan kode dalam kehidupan sehari-hari bahkan bisa terbawa hingga ke mimpi. Diamnya seorang programmer adalah berfikir, ya memikirkan struktur kode. Belum lagi jika kamu seorang freelance yang siap mendapat komplain tengah malam, ditambah bos apabila kamu sudah bekerja, bos memiliki sifat yang hampir sama dengan klien yang membedakan adalah bos dengan kata-kata yang sedikit membuat kuping terasa panas seperti "Sudah selesai programmnya?" atau "Sudah sejauh mana progressnya?" kata-kata itu akan terus beulang kita dengar jika program tidak kita selesaikan secepat kilat. Padahal, programmer perlu banyak waktu untuk memikirkan, membuat, menemukan solusi (jika terjadi masalah), dan menyelesaikan programmnya. Mulai dari bangun tidur hingga ingin tidur kamu harus siap disajikan komplain dan revisi yang tidak kunjung usai. (Apa kamu siap?)


2. Harus Serba Bisa

Harus Serba BisaKlien dan bos adalah orang yang memiliki sifat "tidak pernah puas" yang selalu ingin inovasi baru, teknologi baru dan semuanya serba terbaru tanpa memikirkan bug atau celah yang ada pada program versi terbaru. Padahal seorang programmer juga perlu belajar untuk mengikuti perkembangan dunia programming yang membutuhkan waktu tidak sebentar. Belum lagi jika kamu disuguhkan dengan kata "gampang" apa unek-unek yang akan kamu ucapkan kepada bos? Misalnya, bos berkata "Tolong buat program yang bisa download video dari YouTube, itu mudah dan sederhana kan? Kapan kira-kira selesai? Bisa kan digunakan pada hosting biasa?" Bos menganggap program seperti itu adalah sederhana, padahal programmer professional saja bisa mengerjakan hal seperti itu lebih dari seminggu bahkan berminggu-minggu dan memerlukan hosting yang luar biasa mahal untuk menjalankan script yang menguras resource dan bandwidth. (Kamu programmer? Pasti ngerti...)


Ditambah jika kemauan yang tidak terduga dari bos, seperti "Tolong buat aplikasi banking berbasis web" atau "Tolong buat aplikasi keredit berbasis web". Dari situ saya rasa kamu sudah gemetaran, bukan karena membuat programnya tapi karena kamu harus belajar lagi mengenai perbankan atau sistem kredit. Mau tidak mau kamu harus belajar lagi mengenai perbankan dan distem kredit yang sebenarnya tidak masuk dalam kategori programming. Itu hanya sebagian contoh kecil, belum lagi bos yang meminta program aneh-aneh. (Silahkan dibayangkan sendiri berapa hal yang mesti kamu pelajari untuk membuat sebuah program...)


3. Rela Digaji Kecil

Rela Digaji KecilHampir semua programmer di Indonesia digaji jauh dari gaji programmer di negara maju seperti Amerika dan Eropa. Misalnya di Indonesia hanya digaji 5 - 7 juta sudah senang, di negara maju gaji programmer berkisar antara 30 - 50 juta perbulannya bahkan banyak yang lebih besar dari itu. Padahal, programmer butuh waktu bertahun-tahun untuk mempelajari bahasa program, sedangkan bos di setiap perusahaan tidak mau tau hal tersebut dan memilih mencari pekerja lain "yang bisa digaji kecil" jika programmernya komplain ingin naik gaji yang lebih besar. (Masih mau jadi programmer?)


4. Belajar Seumur Hidup


Belajar Seumur Hidup
Dunia teknologi terus menerus maju setiap detiknya, bahkan hampir setiap minggunya ada saja istilah-istilah baru mengenai pemrogramman yang harus diikuti seorang programmer. Dulu, memang HTML, CSS, PHP dan Database adalah unjung tombak tapi kini segudang bahasa baru muncul seperti Ajax, jQuery, Framework, API, dsb yang perlu dipelajari programmer untuk membangun program yang menyesuaikan era dan permintaan klien atau bos. (Meski sudah lulus kuliah dengan IP tinggi, tapi setiap hari kamu masih harus terus, terus, terus dan terus belajar tanpa akhir... Mau?)


5. Wajib Punya Kesabaran Ekstra

Wajib Punya Kesabaran Ekstra

Bos dan klien adalah dua orang yang berbeda namun memiliki sifat yang agak mirip. Kamu mau tidak mau menjumpai bos dan klien setiap harinya dengan sederet pertanyaan mereka. Kamu akan terus-menerus diteror serta dibanjiri pertanyaan "kapan?" yang akan membuat kamu benar-benar seperti seorang yang dikejar-kejar waktu setiap hari, minggu, bulan dan seterusnya. Hal tersebut yang membuat programmer sibuk dikejar tugas-tugasnya dan melupakan dunia luar. (Itulah sebabnya seorang programmer wajib memiliki kesabaran ekstra... Tertarik?)


Beberapa programmer di Indonesia juga banyak menyampaikan unek-unek di blog pribadinya atau forum diskusi hanya untuk berbagi cerita pribadi mereka atau sekedar membuat perhatian bagi siapapun agar tidak menjadi programmer. Untuk membuktikannya kamu bisa mencarinya di Google mengenai keluhan-keluhan apa saja yang dialami programmer.

Salah satu tulisan pada blog yang mengulas tentang hal seperti ini juga yaitu artikel ini penulis menjabarkan dengan kata-kata bernada sedikit keras dan menyinggung yang bertujuan lelucon (katanya). Tapi itu memang benar-benar kenyataan yang dialami semua programmer di Indonesia. Penulis artikel itu memanglah benar-benar programmer karena beliau tau hingga se-detail mungkin meski kata-katanya agak keras.

Jika ada programmer yang hidup tenang dan berhambur uang, mungkin ialah salah satu dari 0,001% programmer yang beruntung bisa menemukan bos atau solusi menjadi programmer yang sukses.

Apakah kamu masih tertarik ingin menjadi programmer?

Jangan berkecil hati jika kamu sudah terlanjur terjun ke dunia programmer karena masih banyak sisi positif yang bisa kamu dapatkan jika kamu memiliki strategi dan pola pikir yang lebih maju dari kebanyakan programmer lainnya.

Jika kamu rasa artikel ini bermanfaat dan layak dibaca oleh orang lain, jangan ragu untuk membagikannya kepada teman-teman atau saudara dengan meng-klik tombol sosial media diatas ini.

0 komentar:

Posting Komentar

Artikel Terpopuler